Anak Ayam Kehilangan Induk

Anak Ayam Kehilangan Induk

Suatu hari saya menyaksikan televisi dipenuhi berita tentang serangan brutal yang dilakukan tentara Israel pada penduduk Palestina.  Pagi, siang, petang, semua mengupdate kondisi terkininya.  Rumah dan gedung porak-poranda.  Darah berceceran dimana-mana.  Meski korban terus berjatuhan dan mata dunia semua tertuju kesana, namun tak banyak yang bisa dilakukan selain doa. Awal melihat kejadian ini, saya dan beberapa kawan menangis berjam-jam di depan televisi.  Mata bengkak dan hati dipenuhi rasa sakit.  Naasnya kejadian serupa terus berulang tahun berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi sampai terbiasa! Hal yang sama kali ini terjadi pada Rohingya.  Ketika beberapa tahun lalu manusia-manusia perahu itu luntang-lantung di tengah lautan, semua mengutuk.  Sepakat merasakan hal ini sebagai tragedi kemanusiaan.  Maka mengulurkan tangan sebisanya membantu mereka adalah kewajiban.  Tapi kemudian kejadian ini berulang!  Naasnya, lagi-lagi kita sudah terbiasa.  Terbiasa melihat manusia-manusia lainnya dibantai.  Terbiasa menyalurkan bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan.  Bahkan kadang cukup puas membantu dengan doa.  Ahhh, itu pun kalau ingat! Belakangan isu Rohingya menjadi polemik baik tingkat akar rumput hingga...
Read More