Coffee, Cold, Mug, Warm, Morning, Drink, Cup, Window
Sumber : Pixabay

Aku terbangun. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Buru-buru kuraih remote di atas meja di samping ranjang. Mematikan AC kemudian langsung menyembunyikan tubuh lagi di balik selimut. Tapi entah bagaimana si kantuk itu menghilang. Aku berguling dari satu sisi ke sisi lainnya. Mencari posisi nyaman. Berharap si kantuk kembali datang. Tapi gagal!

Jadi aku menyerah. Tak sanggup lagi memaksakan mata untuk kembali terpejam. Aku bangkit. Mencoba mengingat letak sakelar lampu kamar. Maklumlah, aku baru tiba sekitar pukul 22.00 WIB tadi setelah melalui perjalanan panjang dari Pontianak. Begitu pesawat mendarat, aku buru-buru mencari taksi online. Malas jika harus naik bis atau transportasi umum lainnya lagi. Tubuhku lelah. Pikiranku lebih-lebih lagi. Dan ketika lampu menyala, tanpa sadar aku menghela nafas. Ya Rabb, lihatlah jam baru menunjukkan pukul satu tiga puluh dinihari.

Aku meraih jaket yang tergeletak di atas koper kemudian memakainya. Menghidupkan televisi tanpa memilih jenis siaran ataupun saluran. Aku hanya ingin mendengar suara-suara. Dingin udara subuh serta-merta juga mendorongku beranjak menuang air hangat ke dalam gelas dan mulai menyingkap tirai yang menutupi kaca lebar di apartemen ini. Hei, kamar ini menghadap kolam renang. Dan di depan sana lampu-lampu menerangi kota Depok. Cahayanya lebih gemerlap dibanding bintang di langit. Sementara sesekali sayup-sayup suara kereta terdengar lewat. Di belakang kompleks apartemen ini memang dilewati jalur kereta api.

Aku duduk di sofa samping jendela. Memegang erat gelas penghangatku. Kemudian hanyut menikmati pemandangan Depok di malam hari dari jendela apartemen yang mulai hari ini akan kutinggali.

***

1 bulan lalu…

“Diandra, ada kabar baik buatmu…”, ujar kepala divisi baruku dengan antuasiasme tingkat tinggi.

“Apakah itu, Bu?”, tanyaku penasaran.

“Akhirnya permintaan pindahmu ke Depok disetujui lho…”

Aku menelan ludah. Lututku lemas. Semua kata hilang dari perbendaharaan hingga tak tahu lagi harus mengatakan apa.

“Mulai kapan, Bu?”, aku mencoba memproses kejadian.

“Kamu selesaikan dulu saja pekerjaanmu disini kemudian baru berangkat. Satu bulan cukup bukan untuk menyiapkan kepindahan?”

“Oh, iya, Bu…”, sahutku dengan suara nyaris tenggelam.

“Lho…kenapa? Kok kayak nggak semangat gitu?”, beliau mulai menebak-nebak reaksiku.

“Mendadak begini jadi masih merasa kayak mimpi, Bu…”, sahutku sambil mencoba tersenyum. Dan beliau pun ikut tersenyum.

“Selamat yaa…”, beliau menghampiri kemudian memelukku.

Sementara aku mulai diliputi rasa tak menentu.

***

Terkadang jalan hidup manusia itu lucu. Harapan yang dipupuk tinggi tak kunjung berbuah. Sementara ketika harapan itu telah terlupakan, ia muncul mendadak dalam bentuk keranjang berpita yang dialamatkan khusus padamu. Padahal kamu sudah lupa karena tak lagi memerlukannya. Apalagi mengharapkannya!

***

2 tahun lalu…

“Pindahlah ke Depok. Setidaknya lebih dekat ke Jakarta”, ujar lelaki itu padaku.

Aku tersenyum. Oke. Depok pun serta-merta menjadi pilihan. Sayangnya kepindahanku sulit disetujui. Ada seribu satu alasan bagi atasanku untuk menolak permintaan pindah kala itu.

***

Bippp…

Aku meletakkan gelas yang airnya mulai dingin itu. Meraih gawai yang memberi tanda tentang pesan masuk.

“Sudah sampai selamat sehat?”

Aku tersenyum. Khas pesan whatsapp dari sahabatku Alia. Pukul tiga dinihari. Pasti baru selesai tahajud.

“Iya, alhamdulillah”, balasku.

Dia kemudian menelpon begitu menyadari aku masih terjaga pada tengah malam buta.

“Gimana perasaanmu?”, pertanyaan pertama begitu selesai salam.

Aku tertawa kecil. Sulit mendeskripsikannya. Tapi…

“Baik…”, jawabku datar. Tapi kami sama-sama tahu, bahwa aku tak baik.

“Kenapa sih harus tetap berangkat?”, dia kembali mengungkit pertanyaan yang terus diulangnya sejak kuberi tahu perihal kepindahan.

Aku tertawa. Hambar. Dalam hati berkali-kali aku pun bertanya pada-Nya. Mengapa baru sekarang??

“Ya sudah, tidurlah”, ia menyerah. Lalu mengucapkan salam.

Aku meletakkan kembali gawai di atas meja.

There’s a time that I remember, when I did not know no pain;

When I believed in forever, and everything would stay the same;

Now my heart feel like December when somebody say your name;

Cause I can’t reach out to call you, but I know I will one day….

Sayup-sayup suara Adam Levine mengumandangkan memoriesnya di belakang. Aku menoleh. Baru tersadar menyalakan saluran musik. Dan air mata pun mulai tertumpah. Tiba-tiba terasa ada gumpalan yang menghimpit dada. Tak tertahankan rasanya. Bahkan ketika lagu Maroon 5 itu telah berganti lagu lain yang lebih ceria, air mataku tak juga surut. Perlu waktu tiga puluh menit bagiku menenangkan diri. Mengambil wudhu dan mulai mengadu pada-Nya.

Duhai Allah, apa maksudmu dengan semua jalan cerita model ini? Berikan hamba pencerahan agar bisa memahami maksud-Mu. Kalaupun tidak, beri hamba kesabaran yang luas agar mampu berprasangka baik atas doa-doa yang baru terjawab.  Sehingga bisa tegak berdiri menghadapi dunia hingga jatah waktu selesai.

***

1 bulan kemudian…

“Kamu mau menyimpan ini?”, Mamah Arin memberikan gawai padaku. Layarnya retak. Aku memegangnya hati-hati. Jariku bahkan gemetar ketika memencet tombol power. Sandi? Aku memasukkan ulang tahunnya. Gagal. Mamah Arin tersenyum.

“Cobalah milikmu…”, ujarnya pelan dengan mata berkaca-kaca.

Aku menurutinya. Mengubah 2 digit awal menjadi tanggal lahirku karena kami lahir di bulan dan tahun yang sama. Dan terbuka. Fotoku dengannya terpampang disana. Ia menggenggam jemariku.

Aku langsung tersedu. Lelaki itu, aku rindu!

Couple, People, Man, Woman, Guy, Girl, Holding Hand
Sumber : Pixabay

 

*Ditulis setelah sekian lama bertapa dari barisan kata-kata. (Bandung, 15 Januari 2020)

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *